Home | Jurnal Manado | Polisi Pastikan Manado Steril dari 'Meriam Tangan'! Emang Bisa?

Polisi Pastikan Manado Steril dari 'Meriam Tangan'! Emang Bisa?

By
Font size: Decrease font Enlarge font
Polisi Pastikan Manado Steril dari 'Meriam Tangan'! Emang Bisa?
TRIBUNMANADO/DEFFRIATNO NEKE
Sperak, alat penghasil bunyi letupan keras yang mengganggu ketentraman umum disita polisi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - "Bum! Bum! Bum!" Suara petasan sperak yang memekakkan telinga membuat suasana siang yang awalnya hening menjadi gaduh.

Empat anak tengah asyik mengocok botol pewangi pakaian, lalu menyemprotkannya cairan spritus ke dalam mainan yang terbuat dari kaleng plastik yang dilapis dengan lakban. Keempat anak ini pun secara bergantian menekan pemantik pada mainan sperak ini dan menghasilkan suara yang keras.

"Hahahaha, suara konto (kentut)," ujar Luqi (8), yang diikuti tawa Iqbal (7), dan Hafid (7).

Ketiga bocah ini tertawa mendengar suara sperak milik Didit (7).

Tidak terima ditertawakan, Didit, bocah kelas 2 sekolah dasar ini langsung mengisi kembali petasan sperak miliknya dengan spritus dan menekan tombol pemantik. Kali ini, suara yang dihasilkan berbeda dari yang sebelumnya.

"Tadi cuma soe (sial). Ini baru kita pe petasan asli," kata Didit dengan bangga.

Tingkah empat bocah itu dapat kita jumpai di berbagai lokasi di Kota Manado. Namun, berbeda dengan tahun lalu, bunyi petasan sperak kali ini tidak sebanyak dan semeriah tahun lalu. Hal ini diungkapkan oleh Aco (28), warga Kelurahan Bailang, Kecamatan Bunaken, yang membuat petasan sperak menjelang Natal dan Tahun Baru.

"Bahan-bahan untuk membuat petasan sperak semakin sulit didapatkan," ungkap Aco kepada Tribun Manado, Minggu (14/12/2014).
Aco menjelaskan, tahun lalu ia berhasil menjual kurang lebih 100 alat. Namun untuk tahun ini, ia mengaku baru menjual 10 alat.

"Selain bahan sulit dicari, saya juga sekarang sibuk bawa mobil. Buat petasan sperak nanti malam hari setelah pulang dari mancari (cari penumpang)," ungkapnya.

Menurutnya, mendapatkan bahan baku utama seperti kaleng susu dan botol plastik didapatkan dari para pemulung di TPA Kilo Lima.
"Bahan baku utama kaleng susu dan botol plastik. Sisanya seperti lakban, pemantik api, dan lem beli di toko. Cara pembuatannya pun tidak terlalu sulit," ungkap Aco.

Ia menambahkan, sekarang anak-anak lebih memilih membeli petasan sperak daripada petasan yang dibuat dari pabrik. Sperak lebih murah dibandingkan harus membeli petasan pabrik yang dijual di pasar maupun pusat perbelanjaan.

"Kalau petasan sperak harganya sekitar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 tergantung ukuran dan model. Cairan spritus juga saya jual sebotol Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Lebih murah dibandingkan dengan petasan pabrik." ungkapnya.

Namun ia menjelaskan, untuk bermain petasan satu ini harus hati-hati. Selain karena menggunakan cairan kimia, kesalahan dalam penggunaan juga dapat berakibat fatal.

"Tahun lalu ada anak kecil yang masuk rumah sakit karena petasannnya meledak saat bermain," ujarnya.

Mila, warga Kelurahan Bailang, mengaku sangat terganggu oleh sperak yang sering dimainkan anak-anak di lingkungannya. Selain membuat suara yang bising, tingkah laku anak-anak yang tidak mengenal waktu dalam bermain juga sangat menganggu ketentraman.
"Nda siang nda malam selalu terdengar suara petasan. Jelas ini menganggu. Namanya juga anak- anak, dilarang juga semakin dibuat-buat tingkah lakunya," ungkapnya.(chy)

Subscribe to comments feed Comments (1 posted)

avatar
Thursday, 30 June 2016
Tht'as the best answer of all time! JMHO
total: 1 | displaying: 1 - 1

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in